11/24/2018

5 Sajak Sajak Chairil Anwar - Aku Ini Binatang Jalang

Selamat siang para pecinta Bahasa dan Sastra Indonesia...
Semoga dakam keadaan sehat dan berbahagia...

Pada kesempatan ini saya kan menuliskan 5 Sajak Sajak Chairil Anwar kembali. Sajak-sajak yang diambil dari buku Aku Ini Binatang Jalang. Sajak-sajak yang menurut saya sangat indah dan penuh makna. 

Oh iya, sebelum saya tuliskan, bagisahabat semua yang ingin mengetahui tentang Chairil Anwar dan karya-karya nya, bisa membacanya di postingan yang saya tulis sebelumnya.

Baca juga :
2 Sajak Chairil Anwar - Aku Ini Binatang Jalang

Okeh langsung saja...

5 Sajak Sajak Chairil Anwar - Aku Ini Binatang Jalang


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan. keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah diatas menghamba
Binasas di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

Feberuari 1943


TAK SEPADAN

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Februari 1943

SIA-SIA*

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang mematikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
saling bertany: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari ini kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! hatiku yang tak mau memberi
mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Februari 1943


AJAKAN*

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahagia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.

Februari 1943

SENDIRI

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

Februari 1943

Demikianlah 5 Sajak Sajak Chairil Anwar yang biosa saya tuliskan, semoga dapat membantu dan bermanfaat.


Salam Indonesia Raya...
Salam Pesak Sastra...

Kami sepakat, bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang indah, yang Tuhan ciptakan...